Selasa, 20 November 2012

Kasus Stroke Bak Gunung Es


Kompas.com - Kasus stroke di Indonesia bak gunung es, masih banyak kasus yang tidak terdata dan bahkan tidak tertangani. Karena itu, dibutuhkan pendataan untuk mendapatkan angka penderita stroke secara riil, memetakannya, dan menyusun strategi untuk memaksimalkan penanganan dan pencegahan.
"Selama ini kasus stroke di Indonesia seperti gunung es. Hanya sedikit yang muncul ke permukaan. Padahal stroke menjadi penyebab kematian dan kecacatan nomor satu di Indonesia," kata Ketua II Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi), Dodik Tugasworo di Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (20/11/2012).
Karena itu, pada Jumat (23/11/2012), bersamaan dengan pembukaan Pertemuan Ilmiah Nasional Stroke 2012 di Kota Semarang, Perdossi bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan akan mencanangkan program Stroke Registry. Seluruh kasus stroke di RS swasta maupun milik pemerintah di seluruh Indonesia akan didata secara online dan real time. Program itu ditargetkan dapat terlaksana pada tahun 2013 mendatang.
Dodik mengatakan, sejak awal 2012 pendataan sudah dimulai di delapan rumah sakit negeri di Indonesia. Kedelapan RS tersebut yaitu RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RS dr Sardjito Yogyakarta, RS dr Kariadi Semarang, RS dr Sutomo Surabaya, RS Sanglah Bali, RS Adam Malik Medan, dan RS Stroke Nasional Bukittinggi.
Tingginya angka kematian akibat stroke di Indonesia, kata dokter spesialis saraf RS dr Kariadi, Retnaningsih, disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya yaitu keterlambatan penanganan. Rata-rata penderita stroke di Indonesia mendapat penanganan hingga 13 jam setelah serangan. Padahal, penanganan stroke harus dilakukan tidak boleh lebih dari tiga jam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar