Kompas.com -
Kasus stroke di Indonesia bak gunung es, masih banyak kasus yang tidak terdata
dan bahkan tidak tertangani. Karena itu, dibutuhkan pendataan untuk mendapatkan
angka penderita stroke secara riil, memetakannya, dan menyusun strategi untuk
memaksimalkan penanganan dan pencegahan.
"Selama ini kasus stroke di Indonesia seperti
gunung es. Hanya sedikit yang muncul ke permukaan. Padahal stroke menjadi
penyebab kematian dan kecacatan nomor satu di Indonesia," kata Ketua II
Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi), Dodik
Tugasworo di Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (20/11/2012).
Karena itu, pada Jumat (23/11/2012), bersamaan dengan
pembukaan Pertemuan Ilmiah Nasional Stroke 2012 di Kota Semarang, Perdossi
bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan akan mencanangkan program Stroke
Registry. Seluruh kasus stroke di RS swasta maupun milik pemerintah di seluruh
Indonesia akan didata secara online dan real time. Program itu ditargetkan
dapat terlaksana pada tahun 2013 mendatang.
Dodik mengatakan, sejak awal 2012 pendataan sudah dimulai di
delapan rumah sakit negeri di Indonesia. Kedelapan RS tersebut yaitu RS Cipto
Mangunkusumo Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RS dr Sardjito Yogyakarta, RS
dr Kariadi Semarang, RS dr Sutomo Surabaya, RS Sanglah Bali, RS Adam Malik
Medan, dan RS Stroke Nasional Bukittinggi.
Tingginya angka kematian akibat stroke di Indonesia, kata
dokter spesialis saraf RS dr Kariadi, Retnaningsih, disebabkan oleh banyak
faktor, salah satunya yaitu keterlambatan penanganan. Rata-rata penderita
stroke di Indonesia mendapat penanganan hingga 13 jam setelah serangan.
Padahal, penanganan stroke harus dilakukan tidak boleh lebih dari tiga jam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar