Kompas.com -
Penelitian tentang primata menunjukkan hewan ini kemungkinan mengalami krisis
paruh baya seperti halnya pada manusia.
Para ilmuwan melakukan penelitian atas 500 simpanse dan
orangutan di seluruh dunia.
Para petugas dan sukarelawan diminta untuk menilai sikap
primata yang mereka jaga, termasuk interaksi sosial.
Sejumlah penelitian dalam sepuluh tahun terakhir
menunjukkan kebahagian manusia cukup tinggi pada masa muda dan turun pada usia
paruh baya kemudian naik lagi dalam usia tua.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of
the National Academy of Sciencesmengungkapkan pola yang sama terjadi pada
simpanse dan orangutan yang tinggal di kebun binatang dan pusat penelitian di
seluruh dunia.
Andrew Oswald, peneliti dari Universitas Warwick, Inggris,
mengatakan krisis paruh baya ini kemungkinan terjadi karena lingkungan primata
serupa dengan interaksi sosial pada manusia.
Masalah Biologi
Oswald mengatakan kemungkinan primata juga merasa kecewa
bila misalnya mereka tidak menjadi jagoan di dalam kelompoknya.
Sementara peneliti lain, Profesor Alexander Weiss dari
Universitas Edinburgh mengatakan hasil itu menunjukkan krisis paruh baya dapat
diterangkan secara biologi dan fisiologi.
"Di satu sisi kemungkinan ada faktor sosial yang memicu
(kriris paruh baya) namun ada sesuatu yang lebih dalam pada penelitian ini dan
mencakup sejarah evolusi manusia yang serupa dengan simpanse dan orangutan.
Jadi, apa yang terjadi adalah masalah biologi," kata Weiss.
Primata yang diteliti termasuk 155 simpanse di kebun
binatang Jepang, 181 ekor di Amerika dan Australia serta 172 orangutan di kebun
binatang sejumlah negara termasuk Kanada dan Singapura.
Tiga kelompok primata yang diteliti menunjukkan binatang ini
mengalami krisis paruh baya dengan titik nadir pada usia 28 dan 35 tahun
sementara manusia pada umur antara 45 sampai 50 tahun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar