"Berdasarkan laporan tersebut, permintaan terhadap
tenaga kerja terampil dan tenaga kerja terdidik akan meningkat dari 55 juta
menjadi 113 juta pada 2030, atau setara dengan kenaikan hampir 60 juta tenaga
kerja. Hal ini mengharuskan sektor pendidikan kita untuk dapat mencetak lulusan
yang mampu memenuhi standar permintaan industri pekerjaan baik nasional maupun
internasional," tutur praktisi pendidikan Bambang Irianto dalam Journalist
Class besutan Sampoerna Academy, seperti dikutip dari siaran pers yang
diterima Okezone, Jumat (30/11/2012).
Maka, lanjutnya, sangat penting untuk mengurangi kesenjangan di sektor pendidikan yang semakin melebar karena akan berperan dalam menjamin pertumbuhan perekonomian Indonesia. Bambang menilai, para mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan akademik tapi juga keterampilan penunjang yang dibutuhkan industri.
"Salah satu solusinya adalah dengan melakukan penerapan sistem pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan para siswa untuk menghadapi tantangan global di masa depan. Ini berarti, siswa tidak hanya dibekali dengan kemampuan akademis tetapi juga pengembangan kepemimpinan dan keterampilan hidup (life skills)," ujarnya.
Sementara itu, Education Unit Coordinator Sampoerna Academy Reynold Hutabarat mengungkapkan, kebutuhan mendesak akan pendidikan berkualitas mengharuskan para tenaga pendidik maupun lembaga pendidikan menjadi lebih kreatif dalam menyusun kurikulum sekolah.
"Inilah mengapa model pendidikan Sampoerna Academy menawarkan pengalaman yang lebih dari sekedar pendidikan akademis (beyond the classroom) kepada siswa-siswi kami. Mereka juga dibekali dengan keterampilan pengembangan karakter untuk membentuk mereka menjadi calon-calon pemimpin masa depan berkaliber tinggi –kami menyebutnya sebagai pendekatan pendidikan holistik abad ke-21," kata Reynold.
Menurut Reynold, para lulusan yang memiliki kemampuan akademis sekaligus keterampilan pengembangan diri akan membantu menjawab tantangan dari segi SDM yang dialami Indonesia. Dengan demikian, nantinya dapat membantu Indonesia untuk mempertahankan kekuatan perekonomiannya.
"Kami mendorong para siswa untuk turut berpartisipasi tidak hanya pada kegiatan di dalam kelas, namun juga melakukan kontribusi di lingkungan masyarakat sekitarnya. Di saat yang sama mereka akan berada dalam lingkungan multi-budaya guna mempersiapkan mereka dalam menghadapi berbagai tantangan global yang menanti saat mereka lulus di kemudian hari," imbuhnya.
Sampoerna Academy adalah sekolah bertaraf SMA. Kurikulum Sampoerna Academy telah disusun secara khusus untuk membantu menciptakan jalur akademis bagi para siswa untuk melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi, baik di Indonesia maupun luar negeri. Sekolah berasrama ini juga telah menerapkan kurikulum standar pendidikan nasional dan kurikulum internasional, yakni Cambridge IGCSE dan Cambridge International Level A/AS dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Hingga saat ini, Sampoerna Academy telah meluluskan angkatan pertama yang berjumlah 226 siswa.
Maka, lanjutnya, sangat penting untuk mengurangi kesenjangan di sektor pendidikan yang semakin melebar karena akan berperan dalam menjamin pertumbuhan perekonomian Indonesia. Bambang menilai, para mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan akademik tapi juga keterampilan penunjang yang dibutuhkan industri.
"Salah satu solusinya adalah dengan melakukan penerapan sistem pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan para siswa untuk menghadapi tantangan global di masa depan. Ini berarti, siswa tidak hanya dibekali dengan kemampuan akademis tetapi juga pengembangan kepemimpinan dan keterampilan hidup (life skills)," ujarnya.
Sementara itu, Education Unit Coordinator Sampoerna Academy Reynold Hutabarat mengungkapkan, kebutuhan mendesak akan pendidikan berkualitas mengharuskan para tenaga pendidik maupun lembaga pendidikan menjadi lebih kreatif dalam menyusun kurikulum sekolah.
"Inilah mengapa model pendidikan Sampoerna Academy menawarkan pengalaman yang lebih dari sekedar pendidikan akademis (beyond the classroom) kepada siswa-siswi kami. Mereka juga dibekali dengan keterampilan pengembangan karakter untuk membentuk mereka menjadi calon-calon pemimpin masa depan berkaliber tinggi –kami menyebutnya sebagai pendekatan pendidikan holistik abad ke-21," kata Reynold.
Menurut Reynold, para lulusan yang memiliki kemampuan akademis sekaligus keterampilan pengembangan diri akan membantu menjawab tantangan dari segi SDM yang dialami Indonesia. Dengan demikian, nantinya dapat membantu Indonesia untuk mempertahankan kekuatan perekonomiannya.
"Kami mendorong para siswa untuk turut berpartisipasi tidak hanya pada kegiatan di dalam kelas, namun juga melakukan kontribusi di lingkungan masyarakat sekitarnya. Di saat yang sama mereka akan berada dalam lingkungan multi-budaya guna mempersiapkan mereka dalam menghadapi berbagai tantangan global yang menanti saat mereka lulus di kemudian hari," imbuhnya.
Sampoerna Academy adalah sekolah bertaraf SMA. Kurikulum Sampoerna Academy telah disusun secara khusus untuk membantu menciptakan jalur akademis bagi para siswa untuk melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi, baik di Indonesia maupun luar negeri. Sekolah berasrama ini juga telah menerapkan kurikulum standar pendidikan nasional dan kurikulum internasional, yakni Cambridge IGCSE dan Cambridge International Level A/AS dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Hingga saat ini, Sampoerna Academy telah meluluskan angkatan pertama yang berjumlah 226 siswa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar