Minggu, 18 November 2012

Mencari Pahlawan Muda Indonesia

Okezone.com-“Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka tidak harus dicatat di dalam buku sejarah atau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang sekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung; karya kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang lama.” – Anis Matta 
Begitulah kira-kira Anis Matta membuka pesan yang terkandung di dalam bukunya, Mencari Pahlawan Indonesia.

Pemuda Itu Sejatinya Seorang Pahlawan

BERBICARA mengenai kepahlawanan, maka sejatinya kita juga berbicara mengenai momentum munculnya kepahlawanan para diri seseorang. Seseorang tidak akan pernah menjadi seorang pahlawan bila dia terus menerus mengerjakan pekerjaan besar yang menguras habis energinya. Dia hanya membutuhkan satu hal, yakni momentum kepahlawanan. Momentum kepahlawanan itu sendiri terjadi ketika kapasitas yang dimiliki orang itu bertemu dengan waktu yang mengharuskannya muncul. Di saat itulah kapasitas seseorang akan meledak dan menjadikannya seorang pahlawan. Ketika kapasitas diri dan momentum bertemu, maka dimulailah goresan tinta emas sejarah kepahlawanan bagi dirinya dan bagi bangsanya.

Bolehlah kita berkaca pada sang penakluk Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih. Di umurnya yang masih sangat muda, Fatih mampu menaklukan Konstantinopel dengan kapasitas yang dia miliki, serta bantuan dari bala tentaranya. Padahal, butuh waktu ratusan tahun untuk menaklukan kota tersebut dari yang dijanjikan oleh Rasulullah. Saat itu dia sangat yakin bahwa janji Allah via Hadits yang menyebutkan bahwa umat Islam akan menaklukan Konstantinopel itu benar adanya. Dan dia pun menjemput janji Allah tersebut. Sehingga dengan kapasitas diri dan pasukan terbaiknya, mereka mampu menaklukan Konstantinopel dan membuktikan bahwa janji Allah tidak pernah meleset. Di sisi lain, hal ini membuktikan bahwa pemuda punya momentum kepahlawanannya sendiri.

Selain itu, kita juga dapat bercermin dalam momentum lahirnya Hari Pahlawan. Sejarah mencatat  kepahlawanan sekelompok pemuda, yang salah satunya adalah Koesno Wibowo. Pada 18 September 1945, para pemuda itu dengan berani menerobos kerumunan di depan Hotel Yamato, Surabaya. Melangkah dengan penuh keberanian dan keyakinan, para pemuda itu merobek bagian biru dari bendera Belanda untuk kembali mengibarkan bendera Merah Putih. Pada saat itulah momentum kepahlawanan mereka dicatat sejarah.

Bahkan, kita dapat menjadikan profil seorang Bung Hatta untuk dijadikan inspirasi bagi para pemuda. Di tengah umurnya yang masih sekira 23 tahun, beliau mampu menggelorakan semangat kemerdekaan para kaum terpelajar yang sedang bersekolah di Belanda. Bahkan, Bung Hatta menjadi seorang pemimpin organisasi Perhimpunan Indonesia pada 1925. Di sinilah awal mula seorang Bung Hatta membangun momentum kepahlawanannya sebelum dia menemukannya ketika menjadi proklamator bangsa ini. Namun yang perlu diingat, pada waktu membangun momentum kepahlawanannya, Bung Hatta merupakan seorang pemuda.

Pahlawan Masa Kini

Krisis berkepanjangan yang sedang menimpa bangsa ini yang paling parah adalah krisis kepemimpinan dan kepahlawanan. Patut disadari, bahwa bangsa ini belum punya cadangan para pahlawan masa depannya yang siap untuk menggantikan para pendahulunya untuk meneruskan perjuangan dan amal jariyah yang telah dibangun selama lebih dari 66 tahun Indonesia merdeka. Belum ada lagi sosok pahlawan muda yang rela berkorban nan kritis seperti Soekarno, Hatta, dan Natsir. Sudah banyak momentum bangsa ini yang seharusnya dapat dijadikan momentum kepahlawanan para pemuda Indonesia. Sudah berapa tahun momen Sumpah Pemuda, Hari Kebangkitan Nasional dilewatkan? Tapi hanya menjadi semacam ajang refleksi. Bahkan hanya diperingati tanpa ada ruh yang terkandung di dalamnya. Sudah seharusnya kenyataan ini berubah.

Setiap manusia, apalagi pemuda, punya momentum kepahlawanannya sendir, yang diperlukan adalah bagaimana bisa terus mengasah kapasitas pribadinya hingga bertemu waktu yang tepat. Lantas, di era kekinian, kita belum butuh pahlawan yang memang berjuang untuk revolusi atau kemerdekaan secara fisik. Tapi yang kita butuhkan adalah sosok pahlawan yang mampu memaknai dan menginspirasi melalui kerja-kerjanya.

Tanpa kita sadari, banyak sosok pahlawan di sekitar kita yang sangat menginspirasi dalam menggoreskan sejarah kepahlawanan kita sendiri. Karena sejatinya sosok kepahlawanan itu adalah bagaimana seorang pahlawan itu dapat menjadi tauladan dan menjadi inspirator utama dalam kehidupan kita. Bayangkan, bila di sekitar rumah kita tidak ada tukang sapu jalan, apakah mungkin sampah-sampah yang berserakan di sekitar rumah kita, terutama di jalan akan ada yang membersihkannya? Inilah yang kerap kita lewatkan ketika kita bertemu dengan orang-orang yang selalu kita pandang sebelah mata. Padahal, tanpa adanya mereka mungkin hidup kita takkan ada warnanya.

Lebih jauh, pahlawan di era kekinian haruslah visioner dan solutif dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. Hal inilah yang hanya dimiliki oleh pemuda. Dia mampu merealisasikan narasi besar yang dipikirkannya untuk dapat diejawantahkan untuk bangsa. Para pemuda mampu menjadikan ide-ide besar mereka menjadi goresan tinta emas sejarah bangsa ini. Karena dari ide dan pemikiran besar mereka, maka rangkaian harmoni kepahlawanan bangsa ini terus tersambung padu. Sekali lagi, karena sejarah Indonesia adalah sejarahnya para pemuda, maka sudah saatnya pemuda Indonesia menjadi pahlawan bagi bangsanya.

Ghunarsa Sujatnika
Mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar